Posted in Opini

Identitas Muslimah

PhotoGrid_1500573841674

Sungguh senang rasanya melihat perkembangan hijab semakin banyak diterima oleh kalangan muslimah. Artis-artis mulai satu persatu mengenakannya. Kalangan remaja juga semakin banyak yang mengenakan hijab, orang-orang yang bekerja di kantor perlahan-lahan mulai mengenakannya. Ditambah perkembangan hijab syar’i sekarang juga semakin hari semakin berkembang baik, banyak dikenal orang-orang. ALHAMDULILLAH.. saya kadang jadi berfikir, tentang tanda-tanda akhir zaman. Bahwa kelak islam akan kembali berjaya, bersatu seperti pada zamannya Rasulullah SAW. Maka mungkin perkembangan hijab ini juga salah satu kemajuan Dakwah Islam. Masya Allah.

Kembali kepada hijab.
Saudariku, hijab adalah identitas kita sebagai wanita muslimah. Saya punya cerita dari salah satu sahabat sholihah.
Kala itu, sahabat saya tengah melakuka  perjalanan menuju suatu tempat (saya lupa tujuan persisnya). Ia sedang berada di commuterline, berangkat sendiri. Alhamdulillah mendapat tempat duduk. Kemudian, ada seorang wanita yang duduk di sampingnya. Terjadilah perkenalan dan percakapan mengenai beberapa hal. Sahabat saya ini disuguhkan dengan beberapa pertanyaan, mungkin sekilas tentang kasus sosial atau apa ya saya agak lupa, pokoknya ngobrolin sesuatulah gitu. Nah, si wanita ini kebetulan se-inget saya sama-sama mahasiswi, dan dia tidak mengenakan hijab. Percakapan semakin akrab, sampai akhirnya saling bertukar No. Hp.
Tidak lama kemudian mereka berpisah karena tujuan masing-masing. Tapi dengan adanya kontak itu, mereka bisa saling kembali menyambung percakapan dan silaturrahmi, meskipun hanya lewat gadget.
Suatu hari, shabat sholihah saya ini akan menghadiri sebuah kajian Islam yang biasa di lakukannya dan berinisiatif untuk mengajak teman kenalannya tersebut.
“Mba, mau ikut kajian gak?”Dia mengirimkan pesan. Namu apa yang terjadi? Sahabat saya terkejut dengan balasan yang diterimanya, yang berisi pesan seperti ini “Maaf mba, bukannya yang bukan muslim tidak boleh ikut?”.
Ya. Terjawablah, bahwa teman kenalannya itu bukan beragama islam. Kita hanya bisa menebak seorang perempuan beragama islam atau bukan itu dengan hijabnya. Kecuali yang beretnis tionghoa ya, mereka biasanya terlihat dari ciri-ciri fisik, mata sipit, kulit putih. Bahkan mereka yang mualaf pun sudah langsung mengenakan hijab, bukan hanya agar bisa dikenali ia muslimah tapi utamanya karena perintah.

Jadi kesimpulannya, memang benar bahwa hijab adalah identitas kita sebagai umat muslim. Bahkan  yang paling terpenting adalah Allah sudah mewajibkan hal tersbut di dalam firmanNya (Q.s An-Nur : 31 & Q.s Al-Ahzab : 59). Maka, bukan hanya identitas tapi kejawiban. Harus, kudu, wajib hukumnya untk menutup aurat ketika ia telah baligh. konsekuensi ketika kita telah bersyahadat.

Satu hal yang sangat penting. Arti menutup aurat ini tidak sembarangan. Menutup ya, bukan membalut. Karena keduanya memiliki arti yang berbeda.  Kita jangan sampai salah mengambil langkah.
Menutup aurat adalah menutup seluruh bagian tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Menutup aurat adalah tidak menampakan bentuk atau lekuk tubuh. Jadi kalau sudah berhijab tapi masih menampakan lekuk tubuh, misalnya masih mengenakan jelanan jeans yang ketat dan mengenakan baju yang ketak, kemudian hijabnya juga tipis tidak menjulur keseluruh bagian dada, itu belum dikatakan menutup aurat masih sebatas membalut. Dan yang lebih baiknya lagi adalah menutup aurat sesuai dengan tuntunan Syari’at Islam, yang mana kerudung menjulur menutupi  seluruh bagian dada dan mengenakn jilbab yaitu baju terusan  atau bisa kita kenal sekarang adalah gamis. Kemudian jangan lupa mengenakan kaos kaki. Inilah yang dikatakan berhijab syar’i. Tapi selama masih tidak ketat dan tidak membentuk lekuk tubuh, sebagian tokoh dakwah membolehkan mengenakan pakaian yang potongan. Misalnya, rok yang longgar, tidak transparan, baju potongan dengan lengan panjang dan panjang bajunya menutup sampai ke bagian lutut atau paha, tidak tranparan serta mengenakan kerudung yang juga tidak tranparan dan menjulur ke seluruh bagian dadanya. usahakan kesemuanya tidak transparan/nerawang dan longgar, tidak ketak.

Satu lagi yang mungkin masih terspelekan bagi kita yang masih berproses, saya pun masih berproses. Jangan lepas pasang. Berusahalah istiqomah.
Ketika akan bepergian, keluar rumah, terlebih lagi ketempat yang mungkin akan banyak menemukan laki-laki yang bukan mahrom, tetaplah menutup aurat. Hijab bukan sekedar trend, mode belaka. Dia adalah perintah dari yang telah menciptakan kita yakni Allah swt.

Insya Allah ketika kita meyakini itu kemudian memperbaiki niat, pahala akan sesantiasa kita peroleh dan terhindar dari dosa. Ditambah lagi perlindungan Allah akan senantiasa mengiringi perjalanan dan aktivitas kita di luar.

baiklah saudariku, semoga tulisan ini tidak termaksud menggurui, hanya berbagi dan sebagai pengingat diri sendiri. karena selain Hijab mulai berkembang banyak, tapi tidak sedikit dari kita yang masih menyepelekan atau belum terketuk hatinya untuk melaksanakan kewajiban ini. Dan  yang alhamdulillah sudah melangkah ke jenjang berproses, semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk melangkah ke tahap-tahap yang lebih dekat dengan islam dan tentunya dengan Allah SWT pemilik alam jagat raya ini serta penggenggam Hati ini.
wallahu ‘alam..

(mohon maaf bila banyak kekeliruan dan silahkan diluruskan. sangat menampung kritik dan saran. kita sama-sama belajar dan penulisnya masih butuh belajar serta bimbingan)

Posted in Opini

Dakwah Unik

kalo kita liat sekarang-sekarang ini, dakwah mulai bermunculan dengan cara yang berbeda dan unik-unik. tentu saja harus berbeda, karna sasarannya bukan lagi hanya orang-orang usia senja. melainkan target utamanya adalah anak muda, terutama anak muda yang enggan banget buat mengenal islam lebih dekat.

ustad Hanan attaki, sekarang sedang berada dipuncang keberhasilannya memikat hati para pemuda. caranya berdakwah dan menyampaikan risalah islam begitu berbeda. kalo bahasa anak mudanya “ngena banget ke hati” #jieh mudah dipahamin dan tidak membosankan, terlebih lagi gak bikin “nunutan, mun cek orang sunda mah” alias ngantuk.

Ada lagi yang sangat berbeda menurut saya, yaitu Tere Liye ckck.. terlebi-gitu  juga beliau berdakwah loh.. dan sasarannya remaja-remaja yang tengah ABG labil gitu. tapi ngena juga sama yang beranjak-beranjak dewasalah.. 😉

kalo kita liat dari setiap tulisan2nya beliau selalu mengarah pada kebenaran, kebaikan, prinsip agama, prinsip hidup yang baaaik sekali.. tapi beliau menyampaikan dengan gaya bahasa dan sudut pandang yang mudah di pahami oleh anak-anak remaja. salut pol deh..

belum lagi pemuda dan pemudi yang sholeh dan sholehah sekarang ini cerdas-cerdas. banyak bermunculan dakwah-dakwah di media sosial, IG, Youtobe, FB, tumblr, wahh banyak deh pokoknya, dan semuanya keren, dikemas dengan sebegitu uniknya. ada yang dikolaborasikan dengan potonga  film korea, ada yang dengan potongan adegan-adegan keseharian, ada juga yang dengan tingkah-tingkah lucu tapi isinya selalu mengandung nasihat agama, mengajak pada kebenaran dan kebaikan. Masya Allah kreatif banget..

nah, jdi dakwah itu bisa lewat apapun dan dengan cara apapun yah. jangan  takut menyampaikan kebenaran yang sudah kita tahu, jangan pelit berbagi walau hanya satu ayat. hehe.. itu yang saya dapet dari salah satu pemudi hijrah kece.
Dan satu lagi nih yang gak kalah penting, jangan nyeleneh, menyepelekan, meremehkan, atau nyinyir sama orang yang udah mau berbagi ilmunya walaupun itu cuma sedikit. jangan katakan “alah sok alim loe. baru tau segitu aja udah berani nyeramahin” misalnya itu ya hehhe… jangan lihat siapa yang menyampaikan tapi dengar apa yang di sampaikan. 😉

kira-kira siapa lagi yah yang tengah menonjol di dunia dakwah? 

Kamu? 🙂

Posted in Artikel

Seberat Sebelah Sayap Nyamu-pun, Tidak.

Screenshot_2017-08-05-20-33-38-1

“Jika dunia ini berharga dimata Allah, meski hanya seberat sebelah sayap nyamuk, maka tidak akan Allah berikan sedikitpun kepada orang2 kafir (yang tidak beriman kepada Allah). Semuanya hanya untuk mereka yang beriman dan beramal sholih, yang cinta kepada Allah.

Bayangkan, seberapa berat sih sebelah sayap nyamuk? Bahkan tidak berat sama sekali kan. Begitulah dunia di mata Allah, tidak ada harganya. Maka jangalah bersedih ketika Allah sedikit sekali memberikan harta dunia kepada seseorang, dan jangan heran jika sering kali melihat orang2 yang tidak beriman memiliki harta yang melimpah, kekayaan-kekayaan dunia lainnya. Karena dunia tidak berharga di mata Allah.

Alasan lainnya kenapa Allah tidak memberikan kemudahan harta dunia kepada seorang mukmin yang taat dan sholeh, sebab Allah takut, jika dengan kekayaan dunia itu dia bisa lalai dan berpaling dari Allah.

Allah khawatir sekali hamba-hambanya yang taat tidak menggunakan harta itu di jalan Allah, lalai dengan kenikmatan dunia. Kecuali bagi mukmin kaya yang senantiasa dermawan, mengamalkan hartanya di jalan kebaikan dan membuat bertambah ketaatannya kepada Allah. Maka Allah pun akan senantiasa mempermudah segala urusan.
Bagi kita yang mungkin masih merasa sulit memperoleh rezeki dalam katergori harta, berhusnudzonlah bahwa Allah masih khawatir terhadap keimanan dan ketaatan kita. Oleh karena itu terus berusaha, berdoa dan senantiasa selalu dekat dengan Allah.”
Wallahu alam..

Sepenggal tausiyah@ustad_Hanan_attaki

Posted in Cerpen

Semangat ’45 Bro!


“Yo Yo Yo..!!! semangat semangaat!!” Patih bertepuk-tepuk tangan seraya berseru-seru semangat kepada keenam anggota kelompoknya. Mereka telah berkumpul ditengah lapangan yang juga telah dipenuhi para penonton. Dua pohon pinang yang telah berdiri tegak menjulang tinggi kisaran 9 meter lengkap dengan hadiah yang telah bergelantungan di ujung puncaknya. Patih, Darwis, Rendi, Umam, Sandi, dan Halim mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tengah menjalani program dari kampusnya, mengabdi selama satu bulan penuh di kampung pedalaman. Bisa dikatakan untuk pertama kalinya mereka mengikuti perlombaan panjat pinang, biasanya dalam acara peringatan HUT RI sebelum-sebelumnya mereka hanya bersedia menjadi penyelenggaran. Tapi untuk kali ini, dengan antusias dan dorongan warga tempat mereka mengabdi, dengan niat sekedar menghibur, akhirnya mereka bersedia meskipun sedikit terpaksa.

“Cowok-cowok Kereen!!!!!” Teriak Patih saat mereka menumpuk telapak tangan satu sama lain.

“SEMANGAAAT!!” Timpal yang lain sambil terkekeh geli, membanting tumpukan telapak tangan ke udara.

Sekarang mereka telah bersiap untuk mulai memanjat setelah lima menit menunggu giliran dari kelompok pemuda warga kampung setempat. Sistem perlombaan panjat pinang ini sedikit berbeda, satu pohon Pinang ada tiga kelompok yang memperebutkan hadiahnya. Setiap kelompok diberi waktu 5 menit untuk memanjat. Ini saatnya giliran jagoan-jagoan mahasiswa itu. Mereka tidak ada yang bertelanjang dada, alih-alih malu. Jika tidak, bagaimana reaksi para gadis.

“Oke. Siapa yang dibawah?” Ujar Darwis.

“Patih! Badanmu gede.” Umam menunjuk. Matahari tengah terik-teriknya. Panas menusuk kulit.

“Ah, kau sajalah Wis. Badanmu lebih kekar”

“Ah tidak tidak, kau saja.”

“Eeeh! Sudah sudah. Ini kapan kita manjatnya. Patih kau yang dibawah. Dari tadi kan kau yang paling bersemangat. Ayo.” Rendi menengahi. Memang benar, diantara mereka yang bertubuh paling tinggi dan berisi adalah Patih. Dia terkepung, 5 lawan satu. Mau tidak mau dia harus setuju dan mulai berjongkok, bersiap menghadap Pohon pinang.

“Halim, naik!” Seru Rendi.

“Hah?! Aku?” Halim terperanjat. Bingung. Sedari tadi dia diam. Benar-benar untuk pertama kalinya anak yang berkepribadian lembut ini mengikuti lomba panjat pinang. Tidak ada pengalaman sama sekali.

“Iya, kau. Cepatlah. Kenapa pula wajahmu pucat. Haha..” Rendi menggoda.

“Bagimana? A-aku naik dari mana?” Halim semakin bingung.

“Naiklah kebahukku. Ah, kau ini lama sekali” Seru Patih yang sejak tadi sudah jongkok menghadap tiang, tidak sabar. Halim takut-takut mendekat, mulai mengangkat kaki sebelah kanannya. Paha sebelah kanannya telah mendarat di bahu Patih, terhenti oleh seruan Darwis.

“Heh! Bukan begitu. Diinjak Halim, diinjak. Kau kira mau naik kuda-kudaan. Haha…” Darwis terpingkal melihat posisi Halim yang hendak duduk di bahu Patih. Semua orang tertawa. Patih meski sedikit kesal tapi dia tidak bisa menahan tawanya.

“Sudah sudah. Darwis, kau saja duluan. Halim, turun. Macam mana pula kau ini..” Rendi berseru sambil menahan tawa.

Darwis sempurna mendaratkan pijakan kakinya di bahu Patih. Patih sekuat tenaga mengangkat tubuh Darwis, mulai berdiri. Di sebelahnya, Halim menopang pijakan kaki Rendi. Keputusan yang baik, menugaskan Halim sebagai penopang untuk yang lain memanjat urutan ketiga dan seterusnya. Rendi telah berada diurutan ketiga, paling atas. Tinggal menunggu Sandi yang sekarang tengah berjuang memanjat. Tubuh Patih membongkok, wajahnya meringis kesakitan. Semakin membongkok, semakin membongkok dan sempurna jongkok tidak kuat menahan beban empat tubuh. Sroooooot.. gagal.

Waktu tersisa satu menit. Mereka tergeletak di tanah berlumpur yang bercampur oli, licin. Semua terengah. Hanya Umam yang belum sempat memanjat.

Priiiit… panitia meniup peluit tanda waktu telah habis. Kelompok pemuda lain telah bersiap. Mereka lihai memanjat. Tapi gagal juga mencapai puncak, karena siraman air dan lumpur terus mengguyur, belum lagi dengan waktu yang terbatas membuat kecemasan peserta. Pohon pinang semakin licin. Lima menit kemudia telah berlalu, kelompok mereka kembali mendapat giliran.

“Oke. Begini, posisiku paling bawah, kemudian kau Patih. Naiklah kepundakku dan jongkok saja, setelah itu Umam naik dan berdiri.” Mereka merkerumun merencanakan strategi, Rendi serius sekali menatap satu persatu teman-temanya ” Halim tetap di bawah, Sandi naik ke pundak Halim. Patih peluk erat-erat tiangnya dan Kau sandi injak tangan Patih terus sampai naik ke pundak Umam. Oke, mengerti!” Rendi mantap merancang rencana, yang lain mengangguk-angguk saja. Tiba-tiba ada teriakan dari kerumunan penonton.

“WOYY.. jangan kebanyakan teori. Ini bukan kampus. Haha…” Tidaklah lain dialah Selly, teman kelompok mereka yang juga mengabdi bersama, yang sedari tadi berseru-seru menyemangati.

“Segala sesuatunya harus ada rencana Sell.” Timpal Rendi mengepalkan tangan sedikit berteriak, bak seorang pahlawan yang tengah berjuang di medan peperangan, semakin semangat.

“Cepat mulai. Waktu kalian hampir habis!!” Ruli yang juga teman kelompok mereka, sejak tadi berdiri disamping Selly berseru memperingati.

“Oiya!! Cepat cepat!! Semangat ’45 Bro!” Rendi dan teman-temannya kelabakan menyadari waktu terus berjalan sejak tadi, sudah berlalu hampir satu menit.

Mereka mulai melakukan rencana yang telah disusun. Gerakan mereka semakin serius dan lebih gesit, berbeda dari sebelumnya. Satu persatu berhasih mengambil bagian tugasnya. Berdiri sekuat tenaga, memeluk erat pohon Pinang sekencang-kencangnya. Mata terpejam, wajah meringis dan Yes! Tidak lama kemudia Sandi berhasil mencapai bahu Umam. Dia berdiri tegak. Rendi berusaha menahan pijakannya, memeluk Pohon Pinang lebih erat, matanya semakin terpejam. Sandi menggapai-gapai palang puncang Pohon Pinang berkali-kali. Sedikit lagi. Dan, Horeeee!!! Sandi berhasil beraih palang puncaknya, berangsur naik, terus naik dan akhirnya sampai sempurna duduk disana. Dia mulai mecabut bendera yang tertancap, dan semangat mengibarkannya diketinggian 9  meter. Penonton bersorak sorai, terlebih Selly dan Ruli, sejak tadi mereka tidak berhenti tepuk tangan dengan wajah sumringah.

“Huhf.. apa kubilang. Segala sesuatunya perlu rencana.” ujar Rendi berbangga diri.

“Yeah!! Dan satu lagi Bro..” Patih menatap satu persatu teman-temannya yang tengah santai duduk di tanah berlumpur. “Kerja keras, Kerja sama dan percaya diri!!” lanjutnya, mengepalkan tangan. Yang lain terkekeh, manggut-manggut sepersetujuan.

“Itu bukan satu Bro, tapi tiga..” Celetuk Darwis. Semua terbahak.

The End

Posted in Artikel

Keseruan Lebaran Betawi Setu Babakan

 

Pada tanggal 30 Juli 2017, masyarakat Betawi tengah merayakan Lebaran Betawi hari terakhir. Karena perayaan itu sudah di mulai sejak tanggal 28 Juli. Lokasi perayaan ada di Setu Babakan Kampung Betawi. Pada hari terakhir inilah kehadiran Bapak Presiden Jokowi menyita banyak perhatian para pendatang khususnya masyarakat betawi untuk senantiasa hadir di acara tersebut yang membuat padatnya lalu lintas disekitaran lokasi. Khususnya saya dan teman saya, kami turut hadir dalam perayaan Lebaran Betawi dihari terakhir yang jatuh di hari minggu tersebut. Alih-alih penasaran, dengan antusias membayangkan seperti apa jalannya acara tesebut.

Perjalanan menuju tempat acara sebenarnya tidak sulit. Jika tempat awal kita di Ciputat, naik commuterline di stasiun Pondok Ranji, transit di Tanah Abang, kemudian berhenti di stasiun Tanjung Barat. Nah dari sana tunggu Bus Kopaja 616, maka segera sampai di Kampung Betawi. Mudah sekali. Hanya saja, ketika itu Bus kopaja tidak banyak beroperasi, mungkin karena lalu lintas yang sangat padat atau entah karna apalah penyebabnya, jadi tidak banyak yang melintas di stasiun Tanjung Barat. Sebab itulah, hampir 2 jam kami menunggu di Halte, dengan harapan yang semakin lama semakin menciut. Demi menunggu bus itu datang, kami telah menghabiskan satu bungkus rujak dan satu botol air mineral di bawah teriknya matahari waktu zuhur. Sempat terfikir untuk kembali pulang, atau beralih tempat ke stasiun Pasar Minggu, karena biasanya disanalah tempat ngetemnya Bus Kopaja. Tapi kami khawatir ketika tengah berjalan ke sana, bus segera melintas. Akhirnya kami memutuskan untuk terus menunggu, pasrah meskipun kedatangannya sore hari.

Hampir genap dua jam kami menunggu, dengan semua kepasrahan, akhirnya Bus tersebut datang. Wah.. senang sekali rasanya dan bukan main, Bus sangat padat dengan penumpang, sampai saya dan teman saya berdiri antara pintu bus. Mungkin sebab tidak ada lagi bus yang beroperasi atau hanya sedikit saja, Bus kopaja yang kami naiki pun diburu oleh penumpang yang juga banyak bertujuan ke acara Lebaran Betawi tersebut.

Baiklah, dari pada menunggu hingga sore dan niat hadir menjadi sia-sia, tidak apa beridiri di ambang pintu bus seperti knek, yang penting sampai, begitulah pikir kami berdua.

Hampir satu jam bus tidak juga berkurang penumpangnya, malah semakin bertambah. Semakin sesak. Panas semakin membekap. Keringat bercucuran di dahi. Bau keringat sangat menyengat. Menutup bagian mulut dan hidung dengan masker jadi solusi terbaik. Huhff panas. Berkali-kali saya mengeluh dalam hati. Ditambah kepadatan lalu lintas membuat macet sepanjang perjalanan menuju Setu Babakan. Mobil merayap macam siput. 

Tidak lama kemudian, dua orang penumpang memilih turun. Karena sudah berada di kawasan Setu Babakan, mungkin solusi satu2nya agar cepat sampai adalah dengan berjalan kaki. Kami saling tatap. Baiklah, kami memutuskan untuk juga turun dari Bus. Waktu sholat zuhur hampir habis. Kami segera mencari masjid di sepanjang jalan. Alhamdulillah beberapa menit kami menemuka masjid. Huhf lega rasanya masih sempat untuk menunaika sholat zuhur.

Usai shalat, perjalanan masih cukup jauh. Kami menyusuri jalan raya satu-satunya yang benar-benar pada oleh kendaraan. Merayap sedikit-demi sedikit.

Kurang lebih setengah jam, akhirnya kami sampai di kampung Betawi Setu Babakan. Mobil berjejer di tengah rumput hijau yang sangat luas. Itu tempat parkir. Danau Setu Babakan membentang luas. Pengunjung semakin ramai. Kami masih harus berjalan untuk sampai ke tempat utama acara berlangsung.

Kurang lebih setengah jam juga akhirnya kami tiba di area acara tempat berdirinya panggung utama. Tepat pukul setengah empat sore.

Alhamdulillah
.. asiklah. Berbagai makanan khas betawi tersedia disana, tapi sayang sudah hampir habis. Dekorasi-dekorasinya juga sudah banyak yang dibongkar, tapi masih ada beberapa yang masih terpasang rapih. Kami menemukan banyak pedagang Kerak Telor. Jajanan ringan khas betawi. Harganya 20 ribu. Komposisinya terdiri dari Beras yang setengah matang, parutan kelapa yang sudah diracik sedemikian hingga berwarna oren, bumbu rahasia, dan yang paling utamanya adalah telur. Tersedia dua jenis telur, telur ayam dan telur bebek. Keduanya tidak ada perbedaan harga, mau pake telur ayam atau jelur bebek sama saja. Akhirnya saya memilih pake telus bebek, karena saya pikir telur bebek lebih besar jadi akan lebih kenyak. Ckckc… 

Nah ini dia penampakannya. Bagi yang belum pernah melihat atau mencicipinya, saya bagi fotonya saja ya.. ckck Sebab saya juga baru pertama kali makan kerak telor ini.

Setelah mencicipi kerak telor, kami mengunjungi satu persatu stand yang ada di sana. Berfoto (tidak pernah tertinggal). Kemudian menuju panggung utama yang sudah banyak dikerumuni oleh pengunjung. Persis seperti menonton pertandingan bola. Ramai dan sangat padat. Wow! Meriah sekali perayaan ini.

Oiya, perayaan ini tentu memiliki makna dan tujuan. Penjelasannya sebagai berikit, yang di jelaskan oleh salah satu orang asli betawi, khususnya sahabat saya, orangnya cantik, ceria,pinter,tapi kadang suka bertingkah berlebihan (just kidding) ckckc.. but she is my best Friend the most enjoyable. Berikut pemaparannya:

“Lebaran Betawi adalah salah satu acara tahunan sebagai ajang silaturahmi antara warga Jakarta setelah lebaran Idul Fitri. 5 wilayah administrasi di Jakarta memamerkan kekhasan setiap daerahnya. dengan adanya lebaran betawi, masing2 daerah bisa saling kenal dengan komunitas2 dan padepokan2 lainnya. hal itu juga bisa menguatkan tali persaudaraan dan mengukuhkan semangat ke-Betawian. bisa saling memberi masukan dan lainnya. sehingga, betawi bukan cuma istilah nama yang dikenal di jakarta. tp masyarakatnya juga kudu nerapin nilai2 kemanusiaan dalam kesehariannya, terutama yang berkaitan same agama. itu jangan sampe dilupa. bukan cuma lebaran betawi, tapi acara2 serupa itu juga bisa ngenalin betawi ke orang luar, dan bagi masyarakat betawi khususnya, mereka jadi kenal dengan diri mereka. Yang udah tua, mereka bisa kembali bernostalgia dengan kebudayaan dan kesenian yang dulu mereka selalu liat di pagelaran2, bahkan ada yang dulu mereka pernah mainin.”

Jiah, demikianlah keterangan yang kebetulan itu asli diketik sahabat saya. Agak kebetawi-betawian yah, yaaa namanya juga orang asli betawi. Hehe.. 

Dan ini keterangan jelasnya mengenai lokasi perayaan: 

Setu Babakan atau Danau Babakan terletak di Srengseng Sawah, kecamatan Jagakarsa, Kotamadya Jakarta Selatan,Indonesia dekat Depok yang berfungsi sebagai pusat Perkampungan Budaya Betawi, suatu area yang diperuntukkan untuk pelestarian warisan budayaJakarta, yaitu budaya asli Betawi.

Sumber: https://id.m.wikipedia.org/wiki/Setu_Babakan

Oke. Mungkin itu saja yang bisa penulis amatiran ini bagikan. Yupp.. menulis adalah berbagi. Itu semboyan baru yang saya dapet dari salah satu penulis fenomenal di Indonesia. Jadi mari berbagi dengan menulis. 🙂
Semoga bermanfaat -seengganya menghibur atau sebagai bacaan iseng2 lah gitu. Lagi bosen gitu kan, gak ngapa-ngapain, terus buka google atau sosmed, terus ketemu link ini deh.. ckck..

Oke terimakasih sudah membaca dan mohon maaf bila ada kekurangan baik dalam konten tulisan ataupun sistem penulisan yang kurang tersusun dengan baik. 😉

Wassalamu’alaikum.. (wajib di jawab :D)

Oiya, foto tidak punya hak cipta atau sumber tertentu ya, karna foto diambil sendiri dari galeri saya. Hihihi.. (Gak penting :d)

Posted in Artikel

Si Tokoh Ali

Kenal dengan novel ini? Ya! Novel fantasi remaja karangan Novelis best seller Indinesia, idola saya banget. Heheh..

Tulisan ini tidak akan membahas isi novel tersebut, kalau mau baca aja sendiri, beli atau pinjem ya …
Juga tidak berniat untuk meresensinya. Hanya ingin membahas salah satu tokoh didalamnya yang menurut saya pemilik karakter yang selalu menarik.
Ali namanya. Salah satu sahabat dari tokoh utama yang tidak memiliki kekuatan langka seperti yang dimiliki si tokoh utama dan sahabat perempuan satunya. Karena ini fantasi, isinya tentang petualangan ke negeri paraler (agak gak masuk akal sih sebenernya, ya namanya juga fantasi kan. Ckck). Tapi menariknya, si Ali ini memiliki otak yang sangat jenius sekali. Dia senang menemukan atau membuat alat-alat baru yang canggih dan sangat berguna. Ali memiliki karakter yang slengehan, penampilannya selalu berantakan -gak ada rapih-rapihnya deh pokonya- di sekolah pun dia tidak menggunakan kejeniusannya untuk memperoleh nilai ujian yang tinggi, malas sekali belajar, padahal dia jenius. Yang bikin semakin menariknya lagi, dia humoris, sukanya bergurau,  banyak bicara, keingintahuannya sangat besar pada hal-hal yang aneh. Pokoknya dia ini menarik sekali menurut saya. Dia juga sangat pintar menjelaskan sesuatu yang baru, yang tidak bisa dijelaskan oleh siapapun. 

Di dalam cerita buku ini, selalu dia yang membuat bembaca tertawa, senyum-senyum, pokoknya luculah. Selain jenius, pintar menjelaskan sesuatu, berantakan, lebih sering tidak serius menanggapi sesuatu tapi dia memiliki hati yang baik, selalu menghibur dengan celetukan-celetukan lucu atau tingkahnya yang lucu. Ketika dia sedang menjelaskan sesuatu dengan serius rasanya sangat terlihat bijaksana dan mengagumkan. Hemm.. begitulah kira-kira.

Setelah membaca ini saya jadi mengagumi si Ali, yaa walaupun dia fiksi tapi ehh bukankah kita sering menemukan orang yang punya karakter seperti dia?
Utamanya laki-laki ya. Umumnya perempuan itu tertarik kepada orang yang punya karakter ini. Dia suka banyak bicara, tengil, tidak peduli pada penampilan, selalu berantakan jika situasinya santai, tapi dia pintar, jenius, humorin, selalu bikin tertawa, menghibur, mampu menjelaskan sesuatu yang sulit, dan ketika sedang dalam keadaan serius dia terlihat sangat bijaksana. Apalagi jika ditambah dengan dia Peduli sesama, menghargai kebersamaan, taat beribadah, menghargai sesama dan kebaikan lainnya deh. Wah…  Luar biasa yah. Terlalu perfect si kayanya.. ckckc..

Tapi kurang lebih begitulah. Karakternya sangat bagus. Kita bisa mengambil pesan-pesan baik ketika membaca. Walaupun memiliki karakter yang kadang juga menyebalkan, tengil, dan berantakan, jika ditambah lucu, ramah, pintar lagi. Suka berbuat kebaikan, peduli terhadap sesama. Itu sangat mengagumkan.

Oiya, buku ini memberikan satu pemahaman hidup yang baik. Berbunyi seperti berikut:  “Sungguh ada banyak hal di dunia ini yang bisa jadi kita susah payah menggapainya, memaksa ingin memilikinya, ternyata kuncinya dekat sekali: cukup di lepaskan, maka dia datang sendiri. Ada banyak masalah di dunia ini yang bisa jadi kita mati-matian menyelesaikannya, susak sekali jalan keluarnya, ternyata cukup diselesaikan dengan ketulusan, dan jalan keluar atas masalag itu hadir seketika.”

Ya. buku ini menarik sekali. Awalnya saya tidak terlalu suka si baca fantasi, tapi buku ini bagus, sangat menghibur. Yang penasaran silahkan beli atau pinjem sama teman yang punya. Hehe..
Sekian.. terimakasih. 😊

Pengendara Kehidupan (istilah saja)

imagesRasanya selalu selaras memaknai jalan kehidupan dengan jalan raya (ckck..)

Coba kita bandingkan antara pengendara kendaraan roda dua atau empat yang melintas di jalan raya yang muluuss/Tol dengan pengendara yang melintas di jalan raya yang rusak parah, banyak kerikil dan lubang di sekitarnya.

pengendara pertama dia enjoy dan nyaman sekali melajukan kendaraannya, kadang sambil menyumpal lubang telinga  dengan headset, mendengar lagu2 yang disukaianya sambil bersenandung pelan. Jalanan muluuus tanpa macet, tidak ada gangguan sama sekali. Dia meliuk sana meliuk sini mendahului kendaraan lain, menekan bedal gas dengan kecepatan tinggi, ngebut. Rasa khawatirpun sangat sedikit, sebab jalannya muluuus sekali. Kadang jika dia bersama kerabatnya, bisa sambil bergurau, membicarakan segala hal, sedikit sekali rasa khawatir akan apa yang bisa saja terjadi di perjalanan tersebut. Tapi sebenarnya, resikonya akan sangat besar bukan, jika lengah sedikit saja, fatal sekali, kecelakaan akan begitu dasyat merenggut nyawa.

Kita bandingkan dengan pengendara kedua, yang melintas di jalan raya dengan permukaan rusak, banyak kerikil, dan lubang di sekitarnya. Pengendara akan sangat hati-hati bukan?. Pandangan mata akan lebih fokus, genggaman tangan pada stir atau stang motor akan lebih erat, berusaha memegang kendalinya lebih hati-hati. Terkadang lantunan doa malah banya besenandung, baik yang terucap maupun yang hanya diucapkan dalam hati, berharap perjalanannya selamat. Bisanya lebih banyak ingat kepada yang Maha Menciptakan. Wah..
Lalu kita coba selaraskan dengan kehidupan antara yang ditakdirkan hidup nyaman, penuh kemudahan, bergemilangan harta dan kegembiraan dengan yang ditakdirkan untuk hidup dalam kesederhanaan, banyak kesulitan, kesempitan dan kesedihan.

Kehidupan yang pertama, seseorang itu akan begitu nyaman menjalani kehidupannya. Semua serba mudah, ingin apapun bisa ia dapatkan, bersenang-senang dengan kerabat menjadi momen yang selalu dilakukan. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada cemas, dia senang, bahagian sekali dengan kehidupannya, tidak ada kesedihan. Sampai tidak sempat memikirkan apa kewajibannya, apa tujuan dari kehidupannya, bahkan bisa jadi dia lupa kepada yang memberikan dia kehidupan serba nyaman itu. Bisa jadi seperti itu bukan? Atau malah sudah banyak kita lihat. Sampai dia lupa, jika lengah sedikit saja, jika dia terlampau lupa dan teramat lupa, ketika hari itu tiba, hari dimana segala macam hiruk pikuk kehidupan yang di jalaninnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan sang Penciptanya, yang telah memberikannya kehidupan dengan segala kemudahan itu. Akan sangat fatal balasan kekal itu.

Kemudian kita lihat kehidupan seseorang yang kedua.
Dia teramat sederhana, keadaan yang seadanya, atau bahkan dia selalu menemukan kesulitan-kesulitan. Kesulitan memperoleh pekerjaan,Kesulitan memperoleh rezeki, kesulitan memenuhi kebutuhan, dan kesulitan2 lainnya. Tapi sekali ia memperoleh solusi, rezeki umumnya, akan teramat dalam rasa syukur yang dirasakan. Umumnya mereka lebih dekat dengan penciptanya, selalu berdoa, berusaha ikhlas menerima takdir hidup di dunia dan tidak pernah berhenti berharap akan kebahagiaan di akhirat kelak. Meski keadaan sulit, tapi mereka tidak terlalaikan dari kewajiban. Meski merangkak, tapi mereka paham akan tujuan kehidupan yang hakiki. Tidak masalah sulit di dunia, asalkan selamat kelak di akhirat.

Ya, keselarasan ini tentang tanggungjawab kehidupan. Banyak kisah masa lalu. Sejarah menceritakan tentang orang2 bergelimang harta yang memperoleh hidayah iman dan ketakwaan, lebih memilih untuk jatuh miskin saja agar tidak berat tanggungjawabnya di akhirat nanti. Karena benar anugerah itu bukan sekedar untuk bersenang2, tapi ada amanah besar didalamnya atau bahkan ujian terbesar.

Tulisan ini bukan mengajak untuk tidak berusaha memperkaya diri, bukan. Islam malah menyuruh kita untuk kaya. Tapii.. ini ada tapinya. Kekayaan itu tidak menjadikan pemiliknya lalai, melainkan sebaliknya. Kekayaan itu harus digunakan untuk hal2 positif yang bernilai ibadah dan berpahalan  di sisi Allah.

Senang berbagi kepada sesama, menolong kesulitan orang lain dengan hartanya, suka beramal sholeh, sedekah, dan amalan2 lainnya yang pasti bisa mempererat hubungan si pemilik kekayaan dengan Allah. Itu diibaratkan, pengendara kendaraan di jalan Tol yang terus berdoa, berhati-hati, fokus, tidak mengebut-ngebut, insya Allah kemungkinan selamat di perjalanan sampai tujuan sangat besar bukan? Tentu saja.
Sama halnya, ketika seseorang memang ditakdirkan untuk berada dalam kehidupan yang sulit, istilahnya serba kekurangan, ditambah dia tidak taat, sering lalai dalam kewajiban, berbuat jahat kepada orang lain, pokoknya tidak ada amalan baik yang dilakukan. Mengutuk keadaan dengan banyak berbuat dosa. Nah, ini sangaaat berbahaya. Sudah miskin, banyak berbuat dosa, bagaimana akan selamat di akhirat kelak. Allah tidak akan menyukainya. Ini ibarat pengendara yang melintas di jalan rusak parah, dia marah2 melulu, tidak sabaran, terus menggerutu mengutuk keadaan. Kemungkinan terjatuh akan banyak terjadi di sana bukan?.

Nah, semoga kita senantiasa memperoleh bimbingan untuk terus menjadi pengendara kehidupan yang baik dan di sukai oleh pemilik kehidupan. Aamiin..
Ini peringatan dan tamparan tersediri bagi penulisnya. Hehee..
Mohon di luruskan jika banyak kekeliruan..
Terimakasih..

Demikian.. 😊
Wassalam..